Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Januari 2012

Suku Toraja, Sulawesi Selatan

Patung kayu yang disebut tau tau biasanya diletakkan di gua dan menghadap ke luar.

Jajaran patung kayu berada di tebing-tebing diantara gua sebagai makam.
Suku Toraja adalah suku yang menetap di pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan, Indonesia. Dalam masyarakat Toraja, upacara pemakaman meruupakan ritual yang paling penting dan butuh biaya mahal. Semakin kaya dan berkuasa seseorang, maka biaya upacara pemakamannya akan semakin mahal. Dalam agama aluk, hanya keluarga bangsawan yang berhak menggelar pesta pemakaman yang besar. 
Ada tiga cara pemakaman. Peti mati dapat disimpan di dalam gua, atau di makam batu berukir, atau digantung di tebing . Orang kaya kadang-kadang dikubur di makam batu berukir. Makam tersebut biasanya mahal dan waktu pembuatannya sekitar beberapa bulan. Di beberapa daerah, gua batu digunakan untuk meyimpan jenazah seluruh anggota keluarga. Patung kayu yang disebut tau tau biasanya diletakkan di gua dan menghadap ke luar. Peti mati bayi atau anak-anak digantung dengan tali di sisi tebing. Tali tersebut biasanya bertahan selama setahun sebelum membusuk dan membuat petinya terjatuh



Makam khas Suku Toraja Sulawesi Selatan.

Kamis, 29 Desember 2011

PANTAI PERAWAN


Birunya air dan dipadu dengan relief tebing batu karang semakin membuat indahnya Pantai Perawan.
    
Malang Raya memang cukup kaya potensi alam yang bisa dijadikan obyek wisata yang beragam. Ada air terjun, Bendungan, Pegunungan, dan tentunya kekayaan alam berpa pantai. Kabupaten Malang yang beberapa daerahnya berada di sepanjang pesisir pantai selatan pulau jawa, cukup banyak memiliki sederet pantai yang indah dan eksotis. Sebagian memang sudah dikelola untuk menjadi obyek wisata, tetapi tidka sedikit pula yang hingga sekarang masih Alami ataupun hanya dipergunakan warga setempat untuk bermukim.
Dua Nelayan Berangkat Melaut untuk menangkap ikan.
Sebut saja pantai-pantai yang mungkin namanya sudah cukup dikenal bahkan sudah tertulis beberapa literatur wisata ataupun di peta keluaran terbaru. pantai Balekambang di Kecamatan Bantur, dan Pantai Sendangbiru di Kecamatan Sumbermanjing Wetan. Sementara yang belum begitu terekspos namun memliki panorama yang cukup menarik adalah Pantai Perawan. pantai ini terletak di Desa Sido Asri, Kecamatan Sumbermanjing Wetan. Berjarak sekitar 60 kilometer ke arah selatan dari pusat Kota Malang
Karena memang belum dikelola menjadi objek wisata, makanya masih jarang sekali yang mengetahui keberadaan pantai tersebut. Dengan begitu, dengan keindahan pemandangannya, suasana di pantai tersebut terlihat sepi, bersih dan hanya suara deburan ombak yang mendominasi. Sementara, hanya beberapa orang saja yang berlalu lalang di pantai ini. Mereka adalah para nelayan ikan dari warga setempat.
selain secara publikasi dan promosi pantai ini belum gencar,  pantai ini sepi pengunjung dari luar wilayah karena kondisi jalan menuju desa tersebut yang masih belum sempurna. Didominasi jalan batu. Sehingga cukup menyulitkan dan calon pengunjung untuk melintasi jalan tersebut. Apalagi belum adanya papan penunjuk arah yang jelas untuk mengarahkan pengunjung ke lokasi tersebut. "Jadi cocok lah, pantai ini mendapat sebutan Pantai Perawan" .
Tetapi kalau memang untuk benar-benar merasakan dan menikmati suasana pantai dengan puas tanpa banyak gangguan, mungkin Pantai Perawan ini layak untuk dijadikan alternatifnya. Alhamdulillah saya sudah berkempatan untuk mengunjungi pantai ini.
Sepanjang pasir pantai membentang, hanya beberapa pengunjung saja yang nampak.

Selasa, 27 Desember 2011

Coban Glothak

Coban Glothak
Air Jernih Menyegarkan
Panorama di atas Coban Glothak ketika fajar.
Coban ini memiliki ketinggian sekitar 100 m dan berada di lereng Gunung Kawi.  Menurut  masyarakat setempat Coban Glotak ini merupakan coban terakhir dari 7 coban yang berada di atasnya.  Lingkungan di coban ini masih sangat alami.  Untuk menuju kesanai lumayan sulit karena harus menyusuri sungai.




Konon, nama Coban Glotak itu berasal dari bunyi bebatuan yang jatuh bersama jatuhnya air terjun. Bebatuan yang jatuh dan di bawa air itu menimbulkan bunyi klotak - klotak.  Kejadian itulah yang kemudian dijadikan nama air terjun tersebut.  Dan hingga saat ini, bebunyian itu masih bisa di dengar saat malam hari tiba. Terletak di Desa Bedalisodo, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, Propinsi Jawa Timur.
Berjarak 15 km arah barat Kota Malang atau 4 km dari Desa Bedalisodo dengan kondisi jalannya masih beraspal, jalan batu dan  dan sebagian tanah liat.  Dari Desa Bedalisodo perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri jalan setapak mengikuti aliran sungai Dem dari aliran Coban Glothak.  Perjalanan ini berjarak sekitar 2 km hingga tiba di lokasi coban tersebut berada.
Bermain api unggun di camp sebelum melanjutkan perjalanan menuju Coban Glothak esok harinya